Dakwah Dusta

Ada sebuah kisah cantik yang dikutip oleh Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan dalam Taujih Ruhiyah-nya. Kisah menarik ini, atau yang semakna dengannya juga termaktub dalam karya agung Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang khusus membahas para pencinta dan pemendam rindu, Raudhatul Muhibbin.

Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga.

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulangkali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu.

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itu pun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.

Maka ditulisnyalah surat itu, memohon bertemu.

Dan ia mendapat jawaban. ”Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya.

”Maha Suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, ”Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”

Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. ”Andai saja kau lihat aku”, katanya, ”Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”

”Betapa inginnya aku”, kata si gadis, ”Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”

Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. ”Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. dan penyesalan yang tak berkesudahan.”

Si gadis ikut tertunduk. ”Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, ”Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”

”Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. ”Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertaqwa.”

Kita cukupkan sampai di sini sang kisah. Mari kita dengar komentar Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan tentangnya. ”Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. ”Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ’ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketaqwaan kepada Allah.”

”Tapi”, kata beliau memberi catatan. ”Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syari’at Allah.”

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu?

”Kesalahan itu”, kata Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan memungkasi, ”Telah terjadi sejak awal.” Apa itu? ”Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.”

Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Ya. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi dakwahnya ini adalah ”Da’wah dusta!”. Di jalan cinta para pejuang, mari kita hati-hati terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.

Dipublikasi di Kisah | Meninggalkan komentar

Ya Robbi

Dengan segala kerendahan dan kehinaan

Aku datang .. mengetuk pintuk ampunan

Aku hadir dihadapan-Mu dengan segenap jiwa dan raga

Tatkala hati telah gersang tiada lagi tempat meminta

Tatkala jiwa telah ternoda oleh dosa

Aku tersungkur dalam sujud mengharap maghfiroh

Menangisi segala perbuatanku yang salah

Robbi .. aku telah rasakan panasnya siksa dosa didunia

Jauhkanlah aku dari siksa azab neraka.

Dipublikasi di Puisi | Meninggalkan komentar

Amanah Yang Diskreditkan

Tidak bisa kita pungkiri, dahulu di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, umat Islam memiliki konstribusi yang penting, dan tidak ada yang bisa membantahnya. Kita bisa lihat bagiamana perjuangan umat Islam mulai dari Aceh sampai ke Sulawesi dan Maluku.

Rata-rata mereka adalah para ulama. Jadi amanat yang diterima bangsa ini jangan amanat Soekarno-Hatta saja. Mereka berdua memang tokoh, tapi bukan hanya mereka berdua saja tokoh perjuangan kemerdekaan. Mereka berdua menginginkan Negara ini menjadi Negara yang sekuler, Negara yang agama hanya sekedar formalitas saja.
Kita tidak menyalahkan Soekarno, karna mungkin pada masa itu sangat di tuntut persatuan bangsa. Tetapi perlu kita lihat, kalau dulu umat Islam berjuangan dengan teriakan Allah Akbar, dengan semangat jihad.

Banyak pula para pejuangan itu merindukan umat Islam di bumi ini bisa menjalankan Syari’at Islam dengan utuh.
Kita mengenal namanya Kasman Singodimejo dan KH. Agus Salim, mereka bertahan dengan sikap bahwa umat Islam harus diberikan hak untuk menjalankan ajaran agama mereka dengan sempurna.

Boleh saja orang berkata tidak semua masyarakat bangsa iniberkeinginan seperti itu, benar. Karna tidak semua orang suka dengan Islam. Tapi yang menyedihkan kenapa ketika bangsa ini membuat hukum, hukum BW warisan Belanda boleh menjadi rujukan, Code Civil Napoleon boleh menjadi rujukan, bahkan anggota DPR kita pergi studi banding ke Eropa dan Amerika, berarti hukum Negara-negara itu boleh diambil.
Akan tetapi kenapa ketika diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah, haram untuk diambil. Bahkan ketika mendengar PERDA Syari’ah, orang menjadi ribut, itu tandanya tidak boleh mengambil Al-Qur’an dan Sunah, yang mana dahulu diperjuangkan oleh para ulama-ulama kita.

Jadi bisa kita katakan, secara berbangsa umat Islam sudah merdeka namun pada hakikatnya masih saja terjajah.

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Palestine Will Be Free

Every day we tell each other
That this day will be the last
And tomorrow we all can go home free
And all this will finally end
Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free

No mother no father to wipe away my tears
That’s why I won’t cry
I feel scared but I won’t show my fears
I keep my head high
Deep in my heart I never have any doubt
That Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free

I saw those rockets and bombs shining in the sky
Like drops of rain in the sun’s light
Taking away everyone dear to my heart
Destroying my dreams in a blink of an eye
What happened to our human rights?
What happened to the sanctity of life?
And all those other lies?
I know that I’m only a child
But is your conscience still alive

I will caress with my bare hands
Every precious grain of sand
Every stone and every tree
‘Cause no matter what they do
They can never hurt you
Coz your soul will always be free

Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pro Kontra Soeharto Menjadi Pahlawan Nasional

Pada tanggal 17 oktober 2010, Pemerintah, melalui Kementerian Sosial RI (Kemensos), sedang menggodok 10 nama tokoh untuk diusulkan memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Di antara kesepuluh tokoh tersebut terdapat nama mantan Presiden RI ke- 2, yaitu: Jenderal Besar TNI (Purn) HM Soeharto.

Selain Soeharto, mantan Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid dan mantan Gubernur DKI Jakarta, Letjen Marinir (Purn) Ali Sadikin ada di dalam 10 nama tersebut.

Awalnya ada 18 nama tokoh yang diusulkan masyarakat untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional. Setelah dilakukan pengecekan dan verifikasi data, 18 nama itu menciut menjadi 10 nama.

Setelah masuk di Kemensos dan lolos verifikasi, 10 nama ini akan dibawa ke Dewan Gelar Tanda Kehormatan dan Tanda Jasa yang dipimpin oleh Menkopolhukam. Lalu Menkopolhukam akan mengajukannya kepada Presiden untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Prosesnya memang panjang dan penilaiannya berdasarkan banyak kriteria. Kontroversi pun mencuat. Pantaskah Soeharto dijadikan Pahlawan Nasional?

Biografi Singkat Soeharto.

Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Mandala (Pembebasan Irian Barat).

Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno.

Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno, sebuah surat yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya keasliaanya bagi sebagian kalangan, isi dari surat tersebut menugaskan Soeharto untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.

Setelah dirawat selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, mantan presiden Soeharto akhirnya meninggal dunia pada Minggu, 27 Januari 2008. Soeharto meninggal pada pukul 13.10 siang dalam usia 87 tahun.

Pro dan kontra Terhadap Pengusulan Soeharto menjadi Pahlawan Nasional.

Ada yang mengatakan kalau mantan Pangkostrad itu tak layak jadi pahlawan. Alasannya dosa Soeharto sebagai komandan militer dan juga pemimpin pemerintahan terlalu banyak. Mulai dari perannya dalam pemberangusan anggota atau orang-orang yang dicurigai sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca tragedi 30 September 1965.

Peristiwa Malari 1974, Penembakan Misterius (Petrus) yang melegenda itu, peristiwa Tanjung Priok, dugaan pelanggaran HAM selama ABRI berada di Timor Timur, sekarang Timor Leste, Operasi Jaring Merah di Aceh, yang lebih dikenal dengan istilah Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh hingga peristiwa Mei 1998.

Banyak pihak menilai, kalau Soeharto mengetahui, memerintahkan dan juga bertanggung jawab terhadap sederet peristiwa penculikan, penembakan, penyiksaan, pengekangan hingga pencekalan yang dialami banyak orang saat pemerintahan Orde Baru berkuasa sejak 1967 hingga 1998.

Bukan hanya pelanggaran HAM yang dituduhkan kepada pria kelahiran 8 Juni 1921 itu, dugaan korupsi juga seakan melekat dengan sosok pria yang memiliki senyum khas ini. Transparancy International (TI), lembaga yang mengamati dan mempelajari korupsi di dunia, menyebutkan kalau Soeharto masuk daftar salah satu kepala negara terkorup dalam 20 tahun terakhir.

Soeharto juga dituding menyalahgunakan kewenangannya sebagai presiden dengan memberikan berlimpah kemudahan kepada anak-anaknya dan segelintir pengusaha keturunan Tionghoa yang dekat dengannya untuk melebarkan sayap bisnis mereka. Hasilnya konglomerasi yang korup dan rapuh menghancurkan sendi-sendi perekonomian Indonesia. Indonesia pun tenggelam dalam krisis ekonomi (atau lebih dikenal dengan sebutan “Krismon”) di tahun 1997-1998.

Meski dituding memiliki kesalahan yang banyak, Soeharto tidak pernah dibawa ke pengadilan. Mulai dari Presiden BJ Habibie, Gus Dur, Megawati sampai SBY, tidak bisa menyeret Soeharto duduk di depan meja hijau hingga yang bersangkutan meninggal dunia 27 Januari 2008 lalu.

Sebelum beliau meninggal, alasan kesehatan  selalu menjadi polemik Apakah beliau layak  diadili sebagai terdakwa (dengan kondisi kesehatannya yang semakin memburuk ketika itu) atau tidak?

Jaksa Agung di masa pemerintahan Gus Dur, Baharudin Lopa, sempat berujar kalau ia memiliki bukti yang cukup atas dugaan korupsi yang dialamatkan kepada Soeharto. Sayang, Baharudin Lopa keburu meninggal di Arab Saudi tak lama setelah menyatakan akan mengadili Soeharto. Hingga detik ini, tak ada Jaksa Agung yang memiliki keberanian seperti Baharudin Lopa.

Walaupun dosa dan kesalahan Soeharto dinilai banyak, ada juga yang berpendapat bahwa Bapak Pembangunan yang satu ini pantas menjadi pahlawan nasional. Selama 32 tahun ia berkuasa, ada juga hal baik yang telah dihasilkan pemerintahan Orde Baru ini, diantaranya beliau berjasa dalam membangun infrastruktur negara dan membangun gedung-gedung serta fasilitas pendidikan termasuk sekolah. Hal ini terbukti, dari banyaknya rakyat Indonesia yang telah mampu mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi.

Selain itu beliau berhasil menjadikan Indonesia sebagai salah satu `macan Asia` di bidang ekonomi, hal itu merupakan prestasi yang sangat dahsyat.

Begitu juga berbagai kiprahnya menjadikan Indonesia berhasil dalam program Keluarga Berencana (KB), serta berbagai penghargaan internasional lainnya.

Kemudian beliau mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia sehingga sangat disegani di Asia Tenggara dan regional Asia, bahkan dunia.

Kita tak boleh lupa, kalau Indonesia pernah berswasembada pangan di tahun 1980-an. Keamanan dan ketertiban umum di masa pemerintahannya berjalan dengan baik. Tidak ada tindakan premanisme melembaga dan aksi teror yang merajalela. Konflik horizontal juga minim selama Soeharto berkuasa.

Tak hanya itu kedaulatan NKRI benar-benar terjaga dengan kokoh karena negara tetangga segan dengan Indonesia ketika itu. Kehidupan perekonomian pun lebih stabil.

Sekarang tinggal bagaimana Presiden SBY memutuskan apakah memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto atau tidak. SBY harus memperhatikan perasaan dan hak-hak banyak orang yang menjadi korban kebijakan politik Soeharto. Tapi SBY tak boleh mengesampingkan jasa dan prestasi yang pernah dicapai Soeharto.

Melihat kesalahan dan keburukan orang lain memang lebih mudah dibanding memuji prestasinya. Namun kita sebagai seorang muslim yang memegang teguh ajaran Islam yang kaffah janganlah sampai memiliki kepribadian seperti itu, ulama kita berpesan, Ingatlah olehmu dua hal, yaitu kebaikan orang lain padamu dan kesalahanmu pada orang lain, dan lupakanlah dua hal, yaitu kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan orang lain padamu.

Kita sebagai sorang intelektual muslim yang berkepribadian bijak dan berpemikiran tenang hendaklah menyikapi suatu masalah dengan adil dan penuh pertimbangan yang matang, begitu juga dalam menentukan sikap terhadap pro dan kontra pengusulan Soeharto sebagai pahlawan Nasional, jangan sampai kita yang menambah kusut gulungan benang yang sudah kusut.

Dalam batasan tahap pengusulun Soeharto sebagai pahlawan nasional, saya pribadi dan mengajak saudaraku seiman semua untuk mendukung pengusulan tersebut, karena pengusulan tersebut berangkat dari keberhasilan dan prestasi yang dicapai oleh Soeharto, dan apabila kita tidak setuju atau tidak menghargai pengusulan tersebut sama halnya kita menafikan keberhasilan dan prestasi yang dicapainya.

Adapun keputusan apakah beliau layak jadi pahlawan atau tidak kita serahkan kepada pemerintah untuk memutuskannya, pemerintahlah yang lebih mengetahui sepak terjang Soeharto selama ini dan pemerintah juga tahu bagaimana kriteria seorang itu pantas disebut sebagai seorang pahlawan.

Jadi tidak ada gunanya kita ribut-ribut dan adu keras suara dalam hal yang masih dalam tahap prosesnya, jangan sampai karena hal yang belum pasti ini kita justru menyalah-nyalahkan kebenaran Soeharto atau membenar-benarkan kesalahannya. Biarkanlah pemerintah dan wakil-wakil kita di parlemen yang memikirkan dan memutuskannya, berilah mereka kesempatan untuk berpikir dengan tenang, dengan semoga dengan begitu keputusan yang diambilpun keputusan yang adil dan bijaksana.

Untuk saudaraku yang tidak setuju nantinya Soeharto dijadikan pahlawan nasional bersabarlah sampai keputusan diambil oleh pemerintah kita, saya yakin beliau-beliau itu tidak akan mendustakan sosok para pahlawan yang sudah banyak terkubur di bumi Indonesia ini. Pemerintah kita pasti memahami betul kriteria seorang pahlawan, dimana kriteria pahlawan itu adalah:

  1. Warga Negara Indonesia yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya :
    1. Telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik / perjuangan dalam bidang lain mencapai / merebut / mempertahankan / mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
    2. Telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara.
    3. Telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.
  2. Pengabdian dan Perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya (tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya.
  3. Perjuangan yang dilakukannya mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
  4. Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/ nasionalisme yang tinggi,
  5. Memiliki akhlak dan moral yang tinggi.
  6. Tidak menyerah pada lawan / musuh dalam perjuangannya.
  7. Dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya.

Jadi pantas atau tidaknya Soeharto menjadi pahlawan nasional, biarlah pemerintah yang memutuskannya dengan pertimbangan kriteria di atas. Wujud ikhtiar kita sebagai umat Islam dan warga negara yang baik adalah berdo’a kepada Allah SWT smoga dianugerahkan kepada para pemimpin kita kebaikan serta sifat adil dan bijaksana dalam memimpin  dan dalam setiap mengambil kebijakan. Wallahu A’lam.

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Hadits Pertama

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Arti Hadits:

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Keutamaan Hadits ini.

Ikhwati Fillah Rahimakumullah sebelum kita membahas hadits pertama dalam Arba’in An-Nawawi ini lebih dalam lagi, mari kita kenali beberapa keutamaan hadits ini, agar kita semakin tertarik dan lebih termotivasi untuk mempelajarinya lebih dalam, Ikhwati fillah diantara keutamaan atau kelebihan hadits ini adalah:

  • Imam Syafi’I berkomentar tentang hadits ini: “ Hadits tentang niat mencakup 70 bab dalam Fiqh”, akan tetapi menurut Imam Nawawi lebih banyak dari pada apa yang diutarakan Imam Syafi’i. Menurut Imam Syaukani: “ Hadits ini salah satu kaedah dalam kaedah-kaedah Islam,  bahkan hadits ini mencakup 1/3 ilmu”
  • Tingginya penghargaan para ulama kepada hadits ini, mereka memulai setiap buku yang mereka tulis dengan hadits ini, sekaligus sebagai tadzkirah bagi para penuntut ilmu untuk selalu memperbaiki niat mereka dalam menuntut ilmu dan setiap amalan-amalan mereka.
  • Berkata Abdurrahman Al-Mahdi : “ siapa saja yang ingin mengarang sebuah buku hendaklah dia memulainya dengan hadits ini”.

Beberapa ulama yang menerapkan lansung  nasihat ini diantaranya:

  1. Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari-nya
  2. Syekh Taqiyuddin Al-Muqaddasy dalam kitabnya Umdatul Ahkam
  3. Imam As-Suyuti  dalam Jami’ Shagir-nya
  4. Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’
  • Menurut Abu Abid: “tidak ada hadits yang lebih global, kaya, bermanfaat dan lebih banyak faedahnya dari pada hadits ini”.

Apakah hadits ini ada kaitannya dengan Muhajir Ummu Qais?

Banyak para ulama berpendapat bahwa hadits ini muncul karena ada seoarang laki-laki yang ingin menikahi seorang wanita yang konon namanya Ummu Qais. Dan laki-laki ini berhijrah karna ingin menikahi wanita tersebut, bukan karena mengharapkan keutamaan hijrah.

Namun menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar, sanad riwayat Muhajir Ummu Qais ini shahih, akan tetapi hadits ini muncul  bukan karena kisah ini.

Adapun faedah kebanyakan para ulama  mengkait-kaitkan kisah Muhajir Ummu Qais dengan penyebab munculnya hadits ini agar mempermudah memahami naskah hadits tersebut. Sebagaimana para ahli tafsir mencari tahu sebab-sebab turunnya wahyu.

Ibnu Taymiyah berkata: “mengetahui sebab-sebab turunnya wahyu mebantu kita dalam memehami ayat, karena Al-‘ilmu bissabab ilmu bil musabab, apabila kita menguasai apa suatu penyebab maka dengan sendirinya kita akan faham apa yang ditibulkan oleh sebab-sebab itu. Seperti itulah halnya dengan mengetahui sebab-sebab munculnya hadits Nabi Saw membantu kita dalam memehami sabda-sabda Baginda SAW.

Makna yang terkandung dalam hadits ini.

Ibnu Rajab berkata: Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa sebuah amalan dikatakan shaleh atau rusak, boleh atau tidak bolehnya, tergantung niat. Niat lah yang menentukan  ganjaran suatu amalan, yang akan menjadikannya suatu amalan yang dikatakan shaleh, buruk atau  mubah.

Hakekat dari Hijrah adalah meninggalkan, yaitu meninggalkan sesuatu kepada sesuatu yang lain. Maka meninggalkan negeri kafir menuju negeri Islam dinamakan dengan hijrah, begitu juga dengan meninggalakan Mekkah menuju Madinah atau tempat lainnya dinamakan juga dengan hijrah, dan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah juga bisa dinamakan dengan hijrah.

Nabi Saw menjelaskan kepada kita bahwa hijrah itu tergantung niat sang Muhajir (orang ang berhijrah). Jadi siapa yang berhijrah karena Allah SWT dan Rasul-Nya, dengan tujuan agar bisa memperdalami ilmu agamanya dan bisa memperlihatkan identitas keislamannya yang mana hal itu sangat sulit ia lakukan di negeri kafir, maka orang inilah yang sebenarnya dikatakan sebagai Muhair Lillah wa Rasulih.

Sedangkan orang-orang yang hijrah karena dunia, syahwat, harta dan lain sebagainya dari kepentingan duniawi. Untuk orang-orang ini Rasulullah bersabda dalam hadits ini:  فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ , artinya: “maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan“, kalimat ini mengandung kebenciaan dan hinaan atas apa-apa yang mereka inginkan dari kepentingan-kepentingan duniawi, ini diketahui dari enggannya Rasulullah melafazkan dengan jelas nilai atau balasan yang akan mereka terima atas hijrah yang mereka kerjakan.

Hijrah dikiaskan juga dengan ibadah-ibadah lainnya seperti haji, umrah, jihad dan lain sebagainya, benar atau rusaknya ibadah tersebut ditentukan oleh niat yang terhujam dalam hati orang yang mengerjakannya.

Pendapat para ulama tentang niat.

  • Niat adalah pembeda antara ibadah dengan ‘adah (kebiasaan). Apabila kita melakukan mandi wajib maka haruslah kita berniat untuk mandi wajib, sebagai pembeda dengan mandi yang biasa kita lakukan setiap pagi atau sore hari.
  • Sebagai pembeda suatu ibadah dengan ibadah lainnya. Apabila kita melakukan shalat fardu lima waktu haruslah kita berniat shalat fardu, sebagai pembeda dengan shalat sunah.
  • Niat adalah yang membedakan tujuan amalan kita untuk siapa, apakah hanya semata-mata karena Allah SWT atau ada selain Dia yang kita tuju.

Defenisi niat.

Niat dalam bahasa arab bisa diartikan sebagai maksud atau sesuatu yang dimaksudkan, dan bisa diartikan juga dengan ‘azam (kemauan).

Sedangkan niat menurut istilah adalah: bermaksud kepada sesuatu dan punya kemauan untuk melakukannya.

Dan ada juga sebagian ulama yang mendefenisikan niat sebagai ikhlas.

Perbedaan antara Qasdu (maksud) dengan ‘Azmu (kemauan).

Menurut Imam Al-Haramain perbedaan  antara dua pekerjaan hati ini adalah: apabila suatu niat berkaitan dengan masa sekarang maka ia dinamakan dengan qasdu, dan niat jika berkaitan dengan masa yang akan datang dinamakan dengan ‘azmu.

Adapun menurut Ibnul Qayim Rahimahullah niat adalah qasdu itu sendiri, akan tetapi ada beberapa perbedaan antara keduanya:

  • Qasdu adalah berkaitan dengan amalan orang yang mengerjakannya dan juga orang lain, sedangkankan niat hanya berkaitan dengan amalan orang yang mengerjakannya. Maka dari sisi ini qasdu bersifat lebih umum dari pada niat.
  • Qasdu biasanya diiringi oleh kemampuan untuk mewujudkannya, sedangkan niat tidak harus dibarengi kemampuan untuk mewujudkannya, boleh saja seseorang berniat untuk melakukan suatu ibadah walaupun tidak ada kemampuan untuk mewujudkannya. Dalam hal ini niat lebih bersifat umum dari pada qasdu.

Hukum melafazkan niat.

Attafuzh binniyyah atau melafazkan niat secara jahar (jelas) adalah bid’ah munkirah, dikarenakan tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah dalil yang membolehkannya, dan kita semua tahu bahwa hukum asal dari ibadah dalah haram, dan tidak ditetapkan suatu ibadah kecuali dengan Nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dan begitu juga halnya dengan menjaharkan niat dan bacaan shalat bagi ma’mum, bukanlah sesuatu yang disunahkan, akan tetapi itu adalah sesuatu yang makruh, dan apabila hal itu sampai mengganggu orang lain yang sedang shalat maka perbuatan itu bisa jatuh kapada haram.

Pengaruh niat yang baik terhadap amalan-amalan yang mubah.

Para ulama Ushul mendefenisikan  mubah adalah sesuatu amalan yang tidak berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa apabila ditinggalkan.

Akan tetapi suatu amalan yang mubah apabila dilakukan dengan niat yang baik maka akan menjadi suatu ibadah yang akan diberi pahala olehAllah SWT. Jadi apabila kita makan atau minum dengan niat ketaqwaan kepada Allah dan Rasul-Nya, atau agar diri kita terhindar dari masalah dan supaya lebih bertenaga dalam berkerja dan beribadah, maka ia akan mendapat pahala dari Allah Swt.

Ibnul Qayim Al-Jauziyah berkata: “ salah satu keistimewaan orang yang bertaqwa adalah selalu mengkorvert amalan mubah yang mereka kerjakan menjadi suatu ketaan kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Jadi sesuatu yang mubah jika diiringi dengan niat yang shaleh bisa menjadi sesuatu yang sunah, dan jika kita mampu mewajibakan amalan tersebut untuk diri kita sendiri maka itu lebih afdhal, lebih utama dari pada kita meniatkannya suatu amalan sunah. Sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW dalam sebuah hadits qudsi:

وَ ماَ تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

Artinya: “Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai dari pada apa-apa yang aku fardhukan atasnya”. (H.R. Bukhari).

Batasan-batasan dalam meniatkan suatu yang mubah menjadi ibadah.

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam menjadikan amalan mubah kepada suatu ibadah, Nazhim Muhammad Sulthan dalam kitabnya Qawaid wa Fawaid min Arba’in An-Nawawi menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meniatkan suatu amalan mubah menjadi suatu ibadah, diantaranya:

1.    Tidak boleh beranggapan bahwa suatu amalan yang mubah tersebut adalah suatu ibadah, seperti menggap bahwa makan, minum, dan berpakian adalah suatu ibadah, amalan-amalan tersebut tetaplah sesuatu yang diboleh, tapi bukan ibadah, niat kitalah yang menjadikannya suatu ibadah, bukan amalan itu sendiri.

2.    Amalan-amalan mubah yang kita kerjakan hendaklah suatu amalan yang bisa menjadi wasilah (perantara) menuju ketaatan kepada Allah. Ibnu Taimiyah berkata: “Janganlah seseorang melakukan amalan-amalan mubah kecuali amalan itu bisa membantunya menuju ketaatan kepada Allah”.

3.    Amalan-amalan mubah yang kita kerjakan tersebut harus sesuai dengan Syari’at Islam, yang kita yakini bahwa Allah dan Rasul-Nya membolehkannya. Dengan arti kata, meniatkan mencuri untuk tujuan yang baik seperti menolong orang yang lemah, sebagaimana yang kita tonton dalam sinetron Ramadhan PPT 4, dimana tokoh Robin yang merampok dengan tujuan membagikan hasil rampokannya kepada fakir miskin, hal tersebut tidak bisa dibenarkan. Walaupun tujuannya baik, namun merampok adalah sesuatu yang dilarang dalam Islam.

Beberapa faedah dari hadits ini:

1.    Hadits ini menunjukan bahwa niat itu sebahagian dari iman, karena dia adalah pekerjaan hati, dan iman itu sendiri menurut Ahlu Sunnah Wal Jama’ah adalah keyakinan dalam hati yang diucapkan dengan lidah dan dikerjakan oleh anggota tubuh.

2.    Hadits ini menunjukan bahwa wajib bagi seorang muslim sebelum melakukan suatu amalan hendaklah dia tahu hukum amalan tersebut, apakah itu sesuai dengan syari’at atau tidak? apakah itu wajib atau atau sunah?

3.    Dan hadits ini menjelaskan bahwa disyaratkan niat pada suatu amalan yang akan membawa kepada ketaan kepada Allah SWT. Wallahu A’lam.

Dipublikasi di Arba'in An-Nawawi | Meninggalkan komentar

Selengkung Gelora Cahaya Muda

Selengkung Gelora Cahaya Muda
Ada lengkung cahaya
Di mata penuh cita-cita
Gelora muda remaja
Tiada gentar memulai cerita
Di sana
Di tanah asing bertabur ilmu
Memanggil memahat namamu
Menantang semangat muda
Mengajak lintasi samudra
Ada belaian pasir
Berhembus mengundang mimpi
Membangun istana kejayaan
Di negeri segitiga jingga sebelum senja
Segenggam pengharapan
Sertai pengembaraan baru
Berderai doa menghantar haru
Sertai arungi samudra ilmu
Dipublikasi di Puisi | Meninggalkan komentar