Marhalah Dakwah Nabi Muhammad SAW Bag. 1

Ikhwati Fillah Rahimakumullah yang selama ini kita ketahui bahwa marhalah (fase) dakwah Nabi Muhammad SAW hanya terbagi kepada dua marhalah, yaitu marhalah sirriyah (sembunyi-sembunyi) dan jahriyah (terang-terangan). Menurut Dr. Raghib Syarjani marhalah dakwah Nabi Muhammad SAW ada empat marhalah, dimana marhalah jahriyah bisa dijabarkan lagi menjadi tiga poin:

1.      Dakwah Sirriyah (sembunyi-sembunyi), dan fase ini berjalan selama tiga tahun perjalanan   dakwah beliau.

2.      Dakwah Jahriyah dengan lisan (himbauan dari mulut kemulut), fase ini berjalan sampai Nabi Saw hijrah ke Medinah.

3.      Dakwah Jahriyah dengan membalasi serangan orang-orang yang memerangi Islam dan menyakiti kaum Muslimin.

4.      Dakwah Jahriyah dengan memerangi setiap kalangan yang mencoba menghentikan berjalannya dakwah ini atau kalangan yang menghalangi orang lain untuk memeluk Islam.

Pada postingan yang pertama ini saya akan jabarkan sedikit tentang marhalah dakwah Nabi SAW yang pertama, yaitu marhalah sirriyah.

Pada marhalah ini Rasulullah Saw tidak menjadikan beberapa kalangan sebagai objek dakwah beliau, diantaranya:

1.      Majelis-majelis umum bangsa Quraish

2.      Individu yang mana dia memiliki fanatisme atau tasyadud dengan Quraish.

3.      Orang yang memahami betul seluk beluk histories dan kebesaran bangsa Quraysh.

Adapun yang menjadi target dakwah Baginda Nabi Saw adalah orang-orang yang Beliau yakini akan menirima dakwah dan langsung masuk Islam, diantaranya adalah:

1.      Istri tercinta Beliau Khadijah Binti Khuwailid

2.       Sepupu Beliau Ali bin Abi Thalib (pada usia 10 tahun)

3.      Anak angkat Beliau Zaid bin Haritsah

4.      Teman atau sahabat sejati Beliau Abu Bakar As-Sidiq

Dr. Raghib Syarjani mengatakan : Abu Bakar As-Sidiq sangat memberi pengaruh signifikan dalam Marhalah Dakwah Sirriyah ini, karna berkat kegigihan dan keteguhan imannya, Beliau berhasil mengajak beberapa punggawa-punggawa dakwah yang lain, seperti:

  • Utsman bin affan
  • Zubair bin Awwam
  • Abdurrahman bin Auf
  • Sa’ad bin Abi Waqas
  • Thalhah bin Ubaidillah, Radhiyallahu Anhum Jami’an.

Mereka semua bertemu dengan Baginda Nabi Saw dengan cara sembunyi-sembunyi, apabila mereka ingin belajar dan bertanya tentang syari’at Islam, mereka harus pergi ke pelosok-pelosok kota Mekah, menghindari perhatian Bangsa Quraisyh.

Ketika jumlah kaum muslimin mencapai labih dari 30 orang, Baginda Nabi SAW menunjuk rumah Arqam bin Arqam sebagai tempat bertemu dan berkumpul, untuk belajar dan menyampaikan petunjuk dan Wahyu.

Hasil dari dakwah pada marhalah ini lebih dari 40 orang dari laki-laki dan perempuan memeluk Islam, pada umumnya mereka adalah orang-orang fakir dan du’afa’ (lemah), namun berkepribadian mulia dan santun, dan mereka tidak memiliki kaitan langsung dengan Bangsa Quraiysh.

Ada beberapa hikmah dan pelajaran yang bsia kita ambil dari marhalah dakwah ini, diantaranya:

Ø  Pada marhalah yang berjalan selama 3 tahun ini Nabi Saw berdakwah dengan sembunyi-sembunyi bukan karena Beliau takut terhadap bangsa Quraysh, dan juga bukan karena Beliau cemas akan keselamatan diri Beliau.

Ø  Ketika turun Q.S: Al-Mudatsir Beliau sangat yakin seyakin-yakinya bahwa Allah Swt-lah yang mengutus beliau, Dia-lah yang maha berkuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang perlu Beliau takutkan. Begitu juga hendaknya dengan kita para penerus perjuangan Beliau.

Ø  Beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi karena ketaan Beliau kepada Allah SWT, Allah-lah yang memerintah Beliau untuk berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Seandainya Allah Swt pada awal dakwah memerintahakan untuk berdakwah secara terangan-terangan pada awal pengutusan Beliau pasti Beliau akan melakukannya.

Ø  Akan tetapi Subhannallah, Allah Swt mengilhamkan kepada Baginda Nabi Saw untuk berdakwah secara sembunyi-sembunyi pada awal fatrah (masa) kenabian, dan tidak disampaikan dakwah kecuali kepada orang-orang yang menurut Beliau akan membenarkan dakwah ini dan menjadi tameng pergerakan Islam selanjutnya, Ini semua adalah ta’liman li du’ah mim ba’dihi. Petunjuk bagi kita selaku penerus risalah Rasul untuk berhati-hati dan memperhatikan sebab-sebab atau keadaan yang tampak di sekitar kita, tidak menafikan pemikiran dan strategi siyasah yang benar, dan tidak hanya mengandalkan tawakal pada Allah saja untuk meraih gayatud dakwah wa ahdafuha (tujuan dan target dakwah itu sendiri).

Ø  Jadi dari sini kita bisa mengambil suatu pelajaran berharga dari perjalanan dakwah Baginda Nabi Saw, bahwa kita harus bersiyasah Islamiyah dalam berdakwah. Sesuai qadiyah zuruf (keadaan) daerah masing-masing .

“Ambilah hati orang kau akan bisa memegang kepalanya.”

Contoh zahirnya: Rasulullah Saw tidak pernah mengadakan perjanjian-perjanjian kecuali Islam lebih kuat, atau berada diatas kaum yang melakukan perjanjian.

Oleh sebab itu Jumhur Ulama sepakat dalam keadaan lemah (sedikit) kita harus mendahulukan hifzu nafsi (menjaga keselamatan diri), karena kemungkinan akan adanya penyiksaan atau pembunuhan, karena ini adalah maslahah muqabalah, yaitu Hifzu nafs dan hifzud din (menjaga keselamatan agama). Bagaimana kita akan menyelamatkan agama ini kalau kita sendiri tidak selamat. Jadi tidak bisa hanya bermodalkan semangat dan keberanian yang menggebu-gebu, harus ada pertimbangan yang matang.

Khalasah Mutiara:

1) Wajib hukumnya dakwah sembunyi-sembunyi apabila dengan terangan-terangan atau perperangan akan akan meberikan mudarat yang lebih besar.

2) Tidak boleh berdakwah secara sembunyi-sembunyi apabila telah memungkinkan dakwah dengan terang-terangan.

3) Tidak boleh melakukan perdamian atau islah dengan orang yang zhalim atau kafir apabila akan ada muncul potensi kekuatan kembali bagi mereka untuk memerangi Islam kembali.

Poin terakhir:

Mengapa dakwah ini disampaikan pada umumnya kepada orang-orang yang dalam kategori tidak memiliki makanah muhimmah fi sulthani Quraish (kedudukan yang penting dalam kaum Quraiys)? Sebagai bantahan bagi kalangan yang ingin memfitnah Islam, bahwa dakwah ini murni menghimbau umat ini ke jalan yang benar, pengtauhidan Allah SWT, bukan dikarenakan semata-mata mengharapkan kepemimpinan dan kekuasaan serta dunia yang fana ini. Wallahu A’lam.

Tentang Dino Syaiful

A student of Islamic Studies and Arabic Faculty in Al-Azhar University New Damietta City, Egypt.
Pos ini dipublikasikan di Sirah Nabawiyah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Marhalah Dakwah Nabi Muhammad SAW Bag. 1

  1. kyanti nur berkata:

    thanx for your information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s