Pro Kontra Soeharto Menjadi Pahlawan Nasional

Pada tanggal 17 oktober 2010, Pemerintah, melalui Kementerian Sosial RI (Kemensos), sedang menggodok 10 nama tokoh untuk diusulkan memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Di antara kesepuluh tokoh tersebut terdapat nama mantan Presiden RI ke- 2, yaitu: Jenderal Besar TNI (Purn) HM Soeharto.

Selain Soeharto, mantan Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid dan mantan Gubernur DKI Jakarta, Letjen Marinir (Purn) Ali Sadikin ada di dalam 10 nama tersebut.

Awalnya ada 18 nama tokoh yang diusulkan masyarakat untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional. Setelah dilakukan pengecekan dan verifikasi data, 18 nama itu menciut menjadi 10 nama.

Setelah masuk di Kemensos dan lolos verifikasi, 10 nama ini akan dibawa ke Dewan Gelar Tanda Kehormatan dan Tanda Jasa yang dipimpin oleh Menkopolhukam. Lalu Menkopolhukam akan mengajukannya kepada Presiden untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Prosesnya memang panjang dan penilaiannya berdasarkan banyak kriteria. Kontroversi pun mencuat. Pantaskah Soeharto dijadikan Pahlawan Nasional?

Biografi Singkat Soeharto.

Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Mandala (Pembebasan Irian Barat).

Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno.

Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno, sebuah surat yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya keasliaanya bagi sebagian kalangan, isi dari surat tersebut menugaskan Soeharto untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.

Setelah dirawat selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, mantan presiden Soeharto akhirnya meninggal dunia pada Minggu, 27 Januari 2008. Soeharto meninggal pada pukul 13.10 siang dalam usia 87 tahun.

Pro dan kontra Terhadap Pengusulan Soeharto menjadi Pahlawan Nasional.

Ada yang mengatakan kalau mantan Pangkostrad itu tak layak jadi pahlawan. Alasannya dosa Soeharto sebagai komandan militer dan juga pemimpin pemerintahan terlalu banyak. Mulai dari perannya dalam pemberangusan anggota atau orang-orang yang dicurigai sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca tragedi 30 September 1965.

Peristiwa Malari 1974, Penembakan Misterius (Petrus) yang melegenda itu, peristiwa Tanjung Priok, dugaan pelanggaran HAM selama ABRI berada di Timor Timur, sekarang Timor Leste, Operasi Jaring Merah di Aceh, yang lebih dikenal dengan istilah Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh hingga peristiwa Mei 1998.

Banyak pihak menilai, kalau Soeharto mengetahui, memerintahkan dan juga bertanggung jawab terhadap sederet peristiwa penculikan, penembakan, penyiksaan, pengekangan hingga pencekalan yang dialami banyak orang saat pemerintahan Orde Baru berkuasa sejak 1967 hingga 1998.

Bukan hanya pelanggaran HAM yang dituduhkan kepada pria kelahiran 8 Juni 1921 itu, dugaan korupsi juga seakan melekat dengan sosok pria yang memiliki senyum khas ini. Transparancy International (TI), lembaga yang mengamati dan mempelajari korupsi di dunia, menyebutkan kalau Soeharto masuk daftar salah satu kepala negara terkorup dalam 20 tahun terakhir.

Soeharto juga dituding menyalahgunakan kewenangannya sebagai presiden dengan memberikan berlimpah kemudahan kepada anak-anaknya dan segelintir pengusaha keturunan Tionghoa yang dekat dengannya untuk melebarkan sayap bisnis mereka. Hasilnya konglomerasi yang korup dan rapuh menghancurkan sendi-sendi perekonomian Indonesia. Indonesia pun tenggelam dalam krisis ekonomi (atau lebih dikenal dengan sebutan “Krismon”) di tahun 1997-1998.

Meski dituding memiliki kesalahan yang banyak, Soeharto tidak pernah dibawa ke pengadilan. Mulai dari Presiden BJ Habibie, Gus Dur, Megawati sampai SBY, tidak bisa menyeret Soeharto duduk di depan meja hijau hingga yang bersangkutan meninggal dunia 27 Januari 2008 lalu.

Sebelum beliau meninggal, alasan kesehatan  selalu menjadi polemik Apakah beliau layak  diadili sebagai terdakwa (dengan kondisi kesehatannya yang semakin memburuk ketika itu) atau tidak?

Jaksa Agung di masa pemerintahan Gus Dur, Baharudin Lopa, sempat berujar kalau ia memiliki bukti yang cukup atas dugaan korupsi yang dialamatkan kepada Soeharto. Sayang, Baharudin Lopa keburu meninggal di Arab Saudi tak lama setelah menyatakan akan mengadili Soeharto. Hingga detik ini, tak ada Jaksa Agung yang memiliki keberanian seperti Baharudin Lopa.

Walaupun dosa dan kesalahan Soeharto dinilai banyak, ada juga yang berpendapat bahwa Bapak Pembangunan yang satu ini pantas menjadi pahlawan nasional. Selama 32 tahun ia berkuasa, ada juga hal baik yang telah dihasilkan pemerintahan Orde Baru ini, diantaranya beliau berjasa dalam membangun infrastruktur negara dan membangun gedung-gedung serta fasilitas pendidikan termasuk sekolah. Hal ini terbukti, dari banyaknya rakyat Indonesia yang telah mampu mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi.

Selain itu beliau berhasil menjadikan Indonesia sebagai salah satu `macan Asia` di bidang ekonomi, hal itu merupakan prestasi yang sangat dahsyat.

Begitu juga berbagai kiprahnya menjadikan Indonesia berhasil dalam program Keluarga Berencana (KB), serta berbagai penghargaan internasional lainnya.

Kemudian beliau mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia sehingga sangat disegani di Asia Tenggara dan regional Asia, bahkan dunia.

Kita tak boleh lupa, kalau Indonesia pernah berswasembada pangan di tahun 1980-an. Keamanan dan ketertiban umum di masa pemerintahannya berjalan dengan baik. Tidak ada tindakan premanisme melembaga dan aksi teror yang merajalela. Konflik horizontal juga minim selama Soeharto berkuasa.

Tak hanya itu kedaulatan NKRI benar-benar terjaga dengan kokoh karena negara tetangga segan dengan Indonesia ketika itu. Kehidupan perekonomian pun lebih stabil.

Sekarang tinggal bagaimana Presiden SBY memutuskan apakah memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto atau tidak. SBY harus memperhatikan perasaan dan hak-hak banyak orang yang menjadi korban kebijakan politik Soeharto. Tapi SBY tak boleh mengesampingkan jasa dan prestasi yang pernah dicapai Soeharto.

Melihat kesalahan dan keburukan orang lain memang lebih mudah dibanding memuji prestasinya. Namun kita sebagai seorang muslim yang memegang teguh ajaran Islam yang kaffah janganlah sampai memiliki kepribadian seperti itu, ulama kita berpesan, Ingatlah olehmu dua hal, yaitu kebaikan orang lain padamu dan kesalahanmu pada orang lain, dan lupakanlah dua hal, yaitu kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan orang lain padamu.

Kita sebagai sorang intelektual muslim yang berkepribadian bijak dan berpemikiran tenang hendaklah menyikapi suatu masalah dengan adil dan penuh pertimbangan yang matang, begitu juga dalam menentukan sikap terhadap pro dan kontra pengusulan Soeharto sebagai pahlawan Nasional, jangan sampai kita yang menambah kusut gulungan benang yang sudah kusut.

Dalam batasan tahap pengusulun Soeharto sebagai pahlawan nasional, saya pribadi dan mengajak saudaraku seiman semua untuk mendukung pengusulan tersebut, karena pengusulan tersebut berangkat dari keberhasilan dan prestasi yang dicapai oleh Soeharto, dan apabila kita tidak setuju atau tidak menghargai pengusulan tersebut sama halnya kita menafikan keberhasilan dan prestasi yang dicapainya.

Adapun keputusan apakah beliau layak jadi pahlawan atau tidak kita serahkan kepada pemerintah untuk memutuskannya, pemerintahlah yang lebih mengetahui sepak terjang Soeharto selama ini dan pemerintah juga tahu bagaimana kriteria seorang itu pantas disebut sebagai seorang pahlawan.

Jadi tidak ada gunanya kita ribut-ribut dan adu keras suara dalam hal yang masih dalam tahap prosesnya, jangan sampai karena hal yang belum pasti ini kita justru menyalah-nyalahkan kebenaran Soeharto atau membenar-benarkan kesalahannya. Biarkanlah pemerintah dan wakil-wakil kita di parlemen yang memikirkan dan memutuskannya, berilah mereka kesempatan untuk berpikir dengan tenang, dengan semoga dengan begitu keputusan yang diambilpun keputusan yang adil dan bijaksana.

Untuk saudaraku yang tidak setuju nantinya Soeharto dijadikan pahlawan nasional bersabarlah sampai keputusan diambil oleh pemerintah kita, saya yakin beliau-beliau itu tidak akan mendustakan sosok para pahlawan yang sudah banyak terkubur di bumi Indonesia ini. Pemerintah kita pasti memahami betul kriteria seorang pahlawan, dimana kriteria pahlawan itu adalah:

  1. Warga Negara Indonesia yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya :
    1. Telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik / perjuangan dalam bidang lain mencapai / merebut / mempertahankan / mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
    2. Telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara.
    3. Telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.
  2. Pengabdian dan Perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya (tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya.
  3. Perjuangan yang dilakukannya mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
  4. Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/ nasionalisme yang tinggi,
  5. Memiliki akhlak dan moral yang tinggi.
  6. Tidak menyerah pada lawan / musuh dalam perjuangannya.
  7. Dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya.

Jadi pantas atau tidaknya Soeharto menjadi pahlawan nasional, biarlah pemerintah yang memutuskannya dengan pertimbangan kriteria di atas. Wujud ikhtiar kita sebagai umat Islam dan warga negara yang baik adalah berdo’a kepada Allah SWT smoga dianugerahkan kepada para pemimpin kita kebaikan serta sifat adil dan bijaksana dalam memimpin  dan dalam setiap mengambil kebijakan. Wallahu A’lam.

Tentang Dino Syaiful

A student of Islamic Studies and Arabic Faculty in Al-Azhar University New Damietta City, Egypt.
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s